Jenderal Pol. (Purn.) Sutanto dan Pemberantasan Judi

LEXmedia. Ada nama yang selalu muncul setiap kali diskusi tentang pemberantasan judi berskala besar di Indonesia mencuat ke permukaan. Nama itu adalah Jenderal Pol. (Purn.) Drs. Sutanto sosok yang selama tiga tahun memimpin Korps Bhayangkara dan meninggalkan jejak penegakan hukum yang sulit terhapus. Selama masa tugasnya, ia dikenal sebagai sosok yang memiliki integritas tinggi dan sangat tegas dalam memberantas perjudian, premanisme, hingga terorisme. Bayangkan ruangan rapat di Mabes Polri, dinding-dindingnya bisu menyimpan tekad bulat seorang jenderal yang mengetuk meja dan berkata: tidak ada judi yang boleh hidup di tanah ini.

Akar yang Kuat: Lahir dari Tanah Jawa Tengah

Jenderal Sutanto lahir di Comal, Pemalang, Jawa Tengah. Kota kecil yang tenang di pesisir utara Jawa itu menjadi tanah pertama yang mengajarkan disiplin dan kesederhanaan kepada seorang anak yang kelak menjadi Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia. Di sekolah menengah, ia merupakan siswa kelas ilmu pasti alam (PASPAL), dan pada tahun 1969 lulus dari SMA Negeri Pemalang sebelum melanjutkan studi di AKABRI Kepolisian.

Pilihan masuk institusi kepolisian bukan semata ambisi. Bagi Sutanto muda, seragam cokelat adalah panggilan jiwa. Ia lulus pada 1973 dengan menyandang predikat Adhi Makayasa, gelar kehormatan bagi lulusan terbaik angkatannya. Selain itu, Sutanto juga memperkuat kompetensinya melalui berbagai pendidikan lanjutan, antara lain PTIK (1983), Sus Jur Pa Rengar Hankam Bandung (1985), Sespimpol Lembang Bandung (1990), hingga Lemhannas (2000).

Karier yang Menapak Teguh: Dari Pamapta Hingga Kapolri

Perjalanan karier Sutanto bukan lompatan instan. Ia membangunnya bata demi bata, penugasan demi penugasan. Sutanto mengawali karier sebagai Pamapta di jajaran Polda Metro Jaya. Seiring berjalannya waktu, ia dipromosikan sebagai Kapolsek Kebayoran Lama, Kapolsek Kebayoran Baru, Kapolres Sumenep, dan Kapolres Sidoarjo.

Selanjutnya, kariernya terus mendaki. Kariernya naik hingga menjadi Waka Polda Metro Jaya, kemudian pada tahun 2000 diangkat menjadi Kapolda Sumut, dan pada tahun yang sama dipindah menjadi Kapolda Jatim. Setelah hampir tiga tahun memimpin Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, ia kemudian menjabat sebagai Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional. Puncaknya, Sutanto menjabat sebagai Kapolri sejak 8 Juli 2005 hingga 30 September 2008 tiga tahun yang akan mengubah wajah penegakan hukum Indonesia secara fundamental. Tidak berhenti di situ, ia juga menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen Negara Indonesia (BIN) sejak 22 Oktober 2009 hingga 19 Oktober 2011.

Perang Total Melawan Judi Beromset Besar

Dimulai dari Medan: Melawan “Raja Judi”

Sutanto pemberantasan judi Indonesia bukan sekadar jargon politik. Ini adalah misi personal yang dimulainya jauh sebelum ia menduduki kursi Kapolri. Peperangan terhadap judi sudah dimulainya ketika masih menjabat sebagai Kapolda Sumatera Utara tahun 2000. Saat itu judi Kim dan Togel begitu mengakar hingga ke lapisan masyarakat paling bawah. Di Medan, aroma rokok dan keringat bercampur di warung-warung kopi tempat juru tulis togel bekerja dengan tenang seolah hukum tak punya kuasa di sana. Namun, Sutanto mengubah persepsi itu.

Saat menjabat Kapolda Sumatera Utara pada tahun 2000, ia menangkap gembong judi terbesar di Medan kala itu. Keberanian ini bukan tanpa risiko. Setelah memberantas praktik judi, Sutanto dimutasi menjadi Kapolda Jawa Timur. Walau ada yang mengatakan jika pemindahannya tersebut merupakan promosi, banyak yang yakin ia dipindahkan karena pengaruh bandar judi Medan dan bekingnya yang punya kuasa. Namun demikian, Sutanto tidak surut. Ia justru membawa api perlawanan itu ke panggung yang lebih besar.

100 Hari Pertama: Deklarasi Perang Nasional

Keberhasilan Sutanto dalam memberantas judi merupakan salah satu alasan utama mengapa Komisi III DPR menyetujui pengangkatannya menjadi Kapolri. Begitu dilantik, ia langsung bergerak. Sutanto melanjutkan misi membersihkan perjudian di seluruh Tanah Air ketika menjabat sebagai Kapolri. Ia bahkan mengultimatum Kapolda yang tak sanggup melaksanakan instruksinya dengan ancaman pencopotan.

Pencanangan pemberantasan perjudian pada 100 hari pertama menjabat terhitung sukses dalam pelaksanaannya. Selain itu, selama masa jabatannya, ia juga berhasil meringkus gembong terorisme Dr. Azahari di Songgoriti, Kota Batu, Jawa Timur, mengungkap pelaku Bom Bali 2005, serta menindak perwira-perwira Polri yang terlibat suap. Para Kapolda diberi waktu satu pekan untuk memberantas judi tanpa pandang bulu. Tak hanya itu, fokus utama Sutanto juga mencakup korupsi, illegal logging, illegal mining, dan penyelundupan.

Atmosfer di koridor Mabes Polri berubah. Para pejabat berbicara lebih hati-hati. Gerak-gerik bandar judi berskala besar menjadi lebih waspada. Sutanto pemberantasan judi Indonesia bukan sekadar program kerja ia adalah identitas kepemimpinan.

Warisan Hukum yang Melampaui Masa Jabatan

Pesan Terakhir yang Menggetarkan

Dua pekan menjelang masa pensiunnya pada 30 September 2008, Kapolri Jenderal Sutanto mengumpulkan para Kapolda seluruh Indonesia bersama pejabat-pejabat teras Mabes Polri di ruang rapat utama Mabes Polri. Ruangan itu terasa berat. Jenderal yang selama tiga tahun berdiri di garis depan perlawanan terhadap kejahatan kini menyampaikan pesan terakhirnya yaitu bukan tentang prestasi, melainkan tentang komitmen yang harus dilanjutkan.

Salah satu pesan yang disampaikan Kapolri Jenderal Sutanto menjelang berakhirnya masa jabatan adalah meminta seluruh Kapolda untuk tetap berkomitmen terhadap tekad memberantas perjudian. Sutanto meminta, meskipun dirinya sudah tidak memegang jabatan lagi sebagai Kapolri, tekad untuk memberantas perjudian tetap dilanjutkan.

Kata-kata itu menggema: “Jangan sampai ada perjudian lagi yang dibiarkan beroperasi sepeninggalan beliau nanti. Sampai kapanpun jangan sampai ada perjudian.” Pesan sederhana, namun sarat tekad yang luar biasa.

Relevansi di Era Judi Online

Ironisnya, warisan Sutanto menjadi semakin relevan di era modern. Judi yang dulu berwujud togel dan meja kartu kini bermigrasi ke layar ponsel. Omset yang dulunya miliaran rupiah per bulan kini berlipat ganda secara digital. Sikap tegas Sutanto juga tampak dalam menindak perwira tingginya sendiri, termasuk Brigjen Samuel Ismoko dan Kombes Irman Santosa karena diduga menerima suap, bahkan mantan Kabareskrim Komjen Suyitno Landung turut dibui karena kasus serupa.

Oleh karena itu, generasi penegak hukum hari ini membutuhkan semangat yang sama: keberanian untuk tidak berkompromi dengan kejahatan, sekalipun kejahatan itu memiliki pelindung berlapis. Sebagai hasilnya, nama Sutanto selalu disebut setiap kali Indonesia berbicara tentang integritas institusi kepolisian. Sutanto pemberantasan judi Indonesia telah menjadi standar moral yang diwarisi lintas generasi.


FAQ (Frequently Asked Questions)

1. Siapa Jenderal Sutanto dan apa jabatan tertingginya?

Jenderal Pol. (Purn.) Drs. Sutanto adalah mantan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) periode 2005–2008, dilantik oleh Presiden SBY. Setelah pensiun dari Polri, ia menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) periode 2009–2011. Ia dikenal sebagai tokoh penegak hukum paling tegas dalam memberantas perjudian di Indonesia.

2. Apa yang dilakukan Sutanto dalam pemberantasan judi Indonesia?

Sutanto mendeklarasikan perang total terhadap judi sejak menjabat Kapolda Sumut tahun 2000. Saat menjadi Kapolri, ia mencanangkan program pemberantasan judi dalam 100 hari pertama. Ia mengultimatum seluruh Kapolda agar memberantas judi tanpa kompromi, dengan ancaman pencopotan bagi yang tidak menjalankan instruksi tersebut.

3. Apa latar belakang pendidikan Jenderal Sutanto?

Sutanto merupakan lulusan terbaik (Adhi Makayasa) AKABRI Kepolisian angkatan 1973. Ia melanjutkan pendidikan di PTIK (1983), Sespimpol Lembang (1990), dan Lemhannas (2000). Kombinasi pendidikan militer dan akademis tersebut membentuk kepemimpinannya yang tegas namun terstruktur dalam penegakan hukum.

4. Mengapa Sutanto dipilih menjadi Kapolri oleh Presiden SBY?

DPR menyetujui pencalonan Sutanto karena rekam jejaknya yang kuat dalam menekan perjudian saat menjabat Kapolda Sumatera Utara. Keberhasilannya menangkap gembong judi besar di Medan menjadi bukti nyata integritas dan keberanian yang dibutuhkan untuk memimpin Polri.

5. Apa warisan hukum Sutanto bagi Indonesia?

Sutanto meninggalkan warisan berupa budaya zero tolerance terhadap perjudian di institusi kepolisian. Bahkan saat pensiun, ia berpesan kepada seluruh Kapolda agar komitmen pemberantasan judi tidak berhenti. Warisannya relevan hingga kini, di tengah maraknya judi online beromset triliunan rupiah yang masih menjadi tantangan hukum Indonesia.

Baca Juga