LEXmedia. Yap Thiam Hien advokat HAM legendaris ini lahir di Kutaraja, Aceh, pada 25 Mei 1913. Namun, namanya kemudian menjulang jauh melampaui kota kelahirannya. Sebagai pendiri Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), ia menorehkan jejak yang tak terhapuskan. Ia juga menjadi pelopor Persatuan Advokat Indonesia (Peradin). Selain itu, keteguhannya membela kebenaran menjadikan sosok Yap Thiam Hien advokat teladan bagi generasi penegak hukum berikutnya. Artikel ini menelusuri latar pendidikan, jabatan, dan kutipan-kutipan berpengaruh yang pernah ia sampaikan.
Latar Belakang dan Pendidikan Yap Thiam Hien
Ia tumbuh dalam keluarga Tionghoa-Aceh yang cukup terpandang. Ayahnya berpangkat opsir, sementara kakek buyutnya menjabat Letnan Tionghoa di Aceh. Oleh karena itu, keluarganya memperoleh status hukum yang disetarakan dengan golongan Eropa pada masa kolonial. Meskipun demikian, masa kecilnya tidak selalu mudah karena ibunya wafat ketika ia masih belia, dan ayahnya sibuk mencari nafkah.
Pendidikan hukum Yap Thiam Hien dimulai di Rechtshogeschool, sekolah tinggi hukum di Batavia. Setelah itu, ia melanjutkan studi ke Universitas Leiden, Belanda. Pengalaman belajar di Eropa membentuk cara pandangnya terhadap negara hukum dan hak asasi manusia. Sebagai hasilnya, ia pulang ke tanah air dengan bekal keilmuan hukum yang kokoh. Semangat keadilan yang membara pun turut ia bawa pulang.
Yap Thiam Hien Advokat Pendiri Peradin dan YLBHI
Setelah menimba pengalaman di kantor hukum Lie Hwee Yoe, Ia membuka praktik bersama John Karwin, Mochtar Kusumaatmadja, dan Komar pada 1950. Kemudian, pada 1970, ia mendirikan kantor pengacaranya sendiri di Jakarta Pusat. Tidak berhenti di situ, ia juga memelopori berdirinya Peradin dan memimpin asosiasi tersebut selama bertahun-tahun.
Selain aktif di Peradin, Yap Thiam Hien turut mendirikan YLBHI. Lembaga ini memberikan bantuan hukum cuma-cuma kepada rakyat miskin dan korban pelanggaran HAM. Dengan demikian, ia membuka akses keadilan bagi kalangan yang sebelumnya tak terjangkau layanan hukum formal. Perannya sebagai advokat pembela wong cilik ini kemudian dikenang sebagai fondasi gerakan bantuan hukum struktural di Indonesia hingga hari ini.
Prinsip Kebenaran: Filosofi Advokat Sejati
Bayangkan sebuah ruang konsultasi yang temaram, dengan aroma kertas lawas dan suara mesin tik bersahutan. Seorang klien duduk gelisah menanti kata-kata sang advokat. Yap Thiam Hien selalu memulai dengan pertanyaan tajam. Ia ingin tahu apakah kliennya mencari kemenangan atau kebenaran. Salah satu ucapannya yang paling dikenang berbunyi demikian:
“Jika saudara hendak menang perkara, janganlah pilih saya sebagai pengacara Anda.”
Kalimat itu mencerminkan sikapnya sebagai advokat yang menolak kompromi demi kemenangan semata. Baginya, kejujuran klien di ruang sidang jauh lebih berharga daripada putusan yang menguntungkan. Oleh karena itu, tidak jarang kliennya menangis ketika ia mendesak mereka mengungkap fakta yang sesungguhnya. Namun, di balik ketegasan itu, tersimpan kepedulian mendalam terhadap makna keadilan yang hakiki. Suasana haru kerap menyelimuti ruang kerjanya, saat rakyat kecil akhirnya menemukan pembela yang sungguh-sungguh mendengarkan mereka.
Advokat Pembela Hak Asasi Manusia di Masa Sulit
Yap Thiam Hien dikenal sebagai sosok anti-komunis yang teguh pendirian. Meskipun demikian, ia tetap membela tersangka G30S seperti Oei Tjoe Tat dan Latief tanpa memandang ideologi mereka. Baginya, hak atas pembelaan hukum berlaku bagi siapa saja. Prinsip itu berlaku pula bagi lawan pandangan politiknya sendiri.
Ia juga menulis artikel yang mendesak Presiden Sukarno membebaskan tahanan politik, termasuk Mohammad Natsir dan Sjahrir. Selain itu, ia menolak keras Dekrit Presiden 1959 karena dianggap membuka celah otoritarianisme. Akibat keberaniannya, ia sempat ditahan saat peristiwa Malari pada 1974. Di dalam sel yang pengap dan sunyi, ia justru semakin menyadari betapa berat perjuangan menegakkan hak asasi manusia di negeri ini. Pengalaman pahit itu tidak melemahkannya. Sebaliknya, pengalaman itu memperkuat tekadnya untuk terus berjuang tanpa kenal lelah.
Warisan dan Penghargaan bagi Advokat Teladan
Dedikasi panjang sebagai seorang advokat pembela HAM ini mendapat pengakuan luas dari dunia internasional. Pada 20 September 1980, Vrije Universiteit Belanda menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa di bidang hukum kepadanya. Penghargaan ini menegaskan pengaruhnya yang melampaui batas negara.
Yap Thiam Hien wafat pada 25 April 1989 di Brussel, Belgia, saat menghadiri konferensi lembaga donor internasional. Ia dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta. Dua tahun kemudian, para sahabat dan koleganya mendirikan Yap Thiam Hien Award, penghargaan tahunan bagi pejuang hak asasi manusia. Hingga kini, penghargaan itu terus menginspirasi advokat muda untuk meneladani keberanian dan integritasnya sebagai advokat sejati. Warisannya mengajarkan bahwa keadilan sejati lahir dari keberanian membela kebenaran, bukan sekadar kemenangan di ruang sidang semata.
FAQ Frequently Asked Questions)
1. Siapa Yap Thiam Hien dan mengapa ia penting dalam sejarah hukum Indonesia?
Adalah advokat kelahiran Aceh, 1913, yang dikenal sebagai pendiri YLBHI dan pelopor Peradin. Ia penting karena membela rakyat kecil, korban pelanggaran HAM, dan tahanan politik tanpa memandang ideologi, sekaligus meletakkan fondasi bantuan hukum modern di Indonesia.
2. Apa peran Yap Thiam Hien dalam pendirian YLBHI?
Adalah salah satu pendiri Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Lembaga ini lahir untuk memberi akses hukum gratis bagi rakyat miskin dan korban ketidakadilan, menjadikan YLBHI pilar penting gerakan bantuan hukum struktural di Indonesia hingga sekarang.
3. Apa kutipan paling terkenal dari Yap Thiam Hien?
Kutipan paling dikenang berbunyi: ia menolak menjadi pengacara jika kliennya hanya mengejar kemenangan, bukan kebenaran. Filosofi ini mencerminkan prinsip hidupnya bahwa integritas dan kejujuran jauh lebih penting daripada sekadar memenangkan perkara di pengadilan.
4. Mengapa Yap Thiam Hien Award dibentuk?
Award ini dibentuk dua tahun setelah wafatnya pada 1989 oleh para sahabat dan koleganya. Penghargaan tahunan ini diberikan kepada individu yang berjasa memperjuangkan hak asasi manusia, sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya seumur hidup.
5. Apa gelar akademik tertinggi yang diterima Yap Thiam Hien?
Pada 20 September 1980, Vrije Universiteit Belanda menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa di bidang hukum. Gelar ini mengukuhkan pengakuan internasional atas kontribusinya terhadap penegakan hukum dan hak asasi manusia.
